links

12/30/12

Teknik Kandang penangkaran Ayam Hutan

Setelah sekian waktu tidak update artikel , penulis mau berbagi tentang ukuran kandang atau bentuk kandang untuk ternak ayam hutan. ini saya sampaikan terimakasih pada para pembaca yang budiman yang telah berpartisipasi melalui sms ke no. Hp saya. Tapi mohon maaf yang sebesar-besarnya ada beberapa yang tidak sempat terbalas. maklum Hp  jadul, memorinya cepat penuh dan terhapus.
Baik kita mulai dari sini : Penulis pertama kali mencoba beternak ayam hutan ( feb 2006) hanya mempunyai 1 kandan polier berukuran : panjang 2 meter , tinggi 1 meter dan tinggi 1,5 meter . dan dari sinilah penulis berhasil menangkarkan ayam hutan seperti ulasan pertama saya (pengin liat lagi? silakan klik di sini )   dan saat ini penulis memiliki 4 kandang polier dengan ukuran berbeda sebut saja a dan b. kandang a berukurang 1 x 2.5 x 1.5  sedang kandang b berukuran 1,25 x 3 x 1,60 m untuk melihatnya ada Sedikit bagian kandang yang ter shoot dalam bagian akhir video ini dan anda bisa melihat dengan  klik di sini . untuk detail kandang mohon tunggu update berikutnya. Baik pada intinya kandang ukuran A maupun B semuanya berhasil untuk menangkarkan ayam hutan.

Menurut saya pribadi sebetulnya untuk jenis indukkan siap tangkar ukuran kandang tidaklah begitu mempengaruhi keberhasilan dalam beternak. bahkan penulispun pernah mengawinkan ayam hutan dalam 2 kandang box/ sangkar bekisar yang berukuran kurang lebih 60 x60x70 cm  dan sang betinapun bertelur . hanya saja faktor keselamatan tlur ini menjadikan catatan khusus untuk menangkarkan di kandang yang sempit. Resiko terinjak dan pecah sangatlah tinggi. Baik kita kembali ke masalah teknik membuat kandang untuk ternak ayam hutan.  
Ada beberapa faktor keberhasilan dalam menangkarkan ayam hutan:
  1. Indukan yang betul-betul sudah siap kawin.
  • Indukan Jantan ; mempunyai kriteria :
Jinak, tidak takut kepada kita,
responsif terhadap ayam lain (misal ayam kampung) apalagi terhadap ayam hutan betina.
contoh ayam hutan jantan yang siap kawin dapat di lihat di : silakan klik disini untuk melihat indukan jantan siap breeding  tentunya faktor kesehatan ayam juga menjadi faktor yang tidak kalah pentingnya.


  • Indukan Betina
Indukan betina juga harus sudah benar-benar siap kawin.
Ciri-ciri betina siap kawin  sebagai berikut :
- Sering mengeluarkan suara : keek....keek....keek.... berulang dengan suara LEPAS/Keras bahkan terkadang mengeluarkan kokok layaknya si jantan. menurut saya ciri ini yang sangat mudah dikenali oleh kita.
- ciri selanjutnya adalah mata berbinar
- bulu-bulu tertata halus dan terlihat licin ini memerlukan pembiasaan untuk mengetahuinya.
secara detail mungkin video ini akan membantu para pembaca untuk mengetahui ciri ayam betina siap kawin, silakan klik di sini   

 2. RANGSUM / PAKAN
  • Baik indukan jantan atau pun betina tentunya juga harus diperhatikan kesehatan dan rangsum makannya. ADA PENGALAMAN UNIK dari penulis mengenai rangsum ayam hutan ini : begini: Penulis terkadang memberi pakan tambahan berupa cacing (umpan pancing) yang penulis beli di penjual pakan burung,  ketika ayam hutan (betina) belum siap kawin maka ayam-ayam ini enggan atau tidak mau menyantapnya, melirik-pun tidak ( uih...). tetapi ketika ayam ini memasuki masa kawin ataupun bertelor, maka jangan tannya berapapun ia santap !!!  pengalaman ini berlaku untuk 8 ekor indukan betina hanya 1 ekor yang tidak mau menyantapnya.
  • Jankrik, kroto, ulat dan suplemen tambahan ( sentrat ayam petelur) juga selalu hidangkan untuk ayam hutanku.
3.  USIA indukan ayam hutan
Sepengalaman penulis : Usia ayam pejantan harus lebih tua dari indukan betinanya. Penulis pernah mencampur ayam hutan jantan yang usianya lebih muda dari betinanya, APA YANG TERJADI ? "PERKELAHIAN" ayam hutan betina akan menolak kehadirannya sehingga ada sifat agresif/menyerang ketika ayam hutan jantan saya masukkan ke polier. kondisi ini tetntunya tidak akan baik jika diteruskan.
Sekali lagi ini berdasarkan penulis semata. 

4. LOKASI KANDANG
Banyak yang berpendapat bahwa Lokasi kandang yang baik adalah di tempat yang tenang agar seperti habitat aslinya , YA Silakan saja, bagi penulis itu mungkin untuk indukan yang diperoleh hasil tangkapan , sehingga sifat liarnya masih kental. TAPI jika Indukan betul2 jinak dan hasil tangkaran/dipelihara dari kecil maka faktor tersebut diatas  menurut saya tidak berlaku. (bagi para pemula saya sarankan untuk melihat ciri ayam hutan tangkapan dan ciri ayam hutan hasil tangkaran/dipelihara dari kecil silakan klik di sini 
Meskipun begitu lokasi penangkaran IDEALNYA memang ditempat yang sepi, tidak banyak dilalui orang/keluarga/bahkan tamu
Penulis sendiri membuat kandang menjadi 3 katagori :

a. Lokasi di halaman rumah depan , sehingga lokasi ini sangatlah ramai, kendaraan, lalulalang keluarga , tamu, tetangga, bahkan anak-anak kecil kadang bermain bola di halaman saya. dan kutukan ayam hutan pun telah dihasilkan dari kandang ini. Untuk lokasi iini tentunya diperuntukkan bagi indukan yang betul2 pemberani dan sangat familiar terhadap lingkungan ini.

b. Lokasi sepi  dihalaman dalam rumah, ditempat ini hanya saya, dan keluarga yang berlalu lalang. untuk meodel kandang ini saya peruntukkan bagi indukan YANG HANYA JINAK KEPADA SAYA dan Keluarga. Jika ada orang asing maka ayam ini akan sangat ketakutan. JANGAN SALAH meskipun ayam dipelihara dari kecil ada juga yang mempunyai sifat seperti ini. jadi perlu lokasi khusus. di lokasi ini  kutukan ayam hutan juga telah saya hasilkan.

c.  Untuk lokasi yang ke tiga adalah lokasi yang saya sebut di atas; yaitu sepi dan jauh dari keramaian, ini saya taruh dag di lantai dua dimana lantai tersebut sebetulnya untuk jemuran pakaian, tapi sekarang beralih fungsi untuk breeding ayam hutan. Kadang ini (dulu) saya peruntukkan untuk ayam hutan tidak begitu jinak hasil tangkapan dari hutan. ayam ini jika melihat majikannya masih takut, tapi jika melihat indukan betina responyya sangat bagus. JANGAN SALAH Tafsir. sekali lagi ayam ini mempunyai respon bagus dengan betinanya, tapi jika melihat majikannya . Wuaduh.... minta ampyuun... kepalanya bisa-bisa penyok terluka karena sifat liarnya. Tapi barang kali pembaca mempunyai ayam hutan jantan dan jika didekatkan ke ayam hutan betina apa lagi ayam kampung kok nampak ogah-ogahan ya..... mungkin butuh waktu dan ketelatenan ekstra untuk membuat ayam bergairah/responsif kembali. oh iya....  penulis juga pernah menghasilkan kutukan dari tipe kandang/ayam ini 
 
 Masih ada beberapa faktor keberhasilan dalam menangkarkan ayam hutan, antara lain TEKNIK/CARA  MENCAMPUR Indukan dan CARA MENGAWINKAN INDUKAN ayam hutan  dan lain sebagainya  akan saya bahaas di lain kesempatan.

sedikit catatan saja bahwa:
Pengalaman saya di atas murni dari pengalaman saya pribadi, dan menurut saya ITULAH yang menjadi SALAH SATU KUNCI keberhasilan dalam menangkarkan ayam hutan. Sebetulnya masih banyak yang ingin penulis sampaikan , berhubung banyak keterbatasan mungkin akan saya update kembali  PENGALAMAN SAYA tentang beternak ayam hutan.

Bagi pembaca yang budiman silakan juga mencari sumber lain yang lebih baik tentang tips, trik atau apalah namanya untuk dijadikan referensi untuk beternak ayam hutan !

Salam Cekikrek dari saya

10/11/12

Tips menetaskan Telur Ayam Hutan dengan Mesin Tetas

Tak mau ketinggalan moment yang satu ini, gambar ini diabadikan oleh anak saya, Ketika telur menetas saya tidak berada di rumah, masuklah sms dari anak saya, be.... telurnya udah pada netas... kasihan sekali  mereka basah kuyup.... kira-kira begitu sms dari anak saya. Dik tolong di ambil gambarnya yah..dst
Untuk kesekian kalinya penulis mau berbagi cerita tentang menetaskan telur ayam hutan (gallus varius) dengan mesin penetas. Pada dasarnya tidak terlalu sulit untuk menetaskan dengan mesin ini . Yang penting baca buku manual beres. selesai. Tetapi petunjuk manual terkadang memaksa kita untuk turun tangan dalam proses penetasannya. Ambil contoh : dari berbagai sumber (termasuk manual book) kita diharuskan memutar telur sehari 3 kali...... capek....deh.................  apa munkin ini kita lakukan?, lalu bagai mana jika tidak kita lakukam ? menetaskah ?

Baik berikut saya sampaikan point penting manual book dari mesin tetas saya :
1. Usahakan sebelum telur diletakkan , suhu mesin sudah stabil ( 38-39 derajat Celcius)
    taruh air dalam baki untuk menjaga kelembaban udara dalam mesin
2. letakkan telur  dengan kemiringan 45 derajat dengan bagian runcing dibawah
3. 3 hari pertama tidak dilakukan pemutaran telur
4. mulai 4 hari sampai hari ke 17 telur diputar sehari 3 kali NAh......Lo......
ventilasi udara dibuak 25%
pemutaran dimaksudkan untuk memeroleh pemerataan suhu pada telur
5.Pada hari ke 7 dan 15 lakukan pendinginan selama 30 menit. mesin dimatikan dan penutup dibuka
Ventilasi dibuka 50%
6. pendinginan pada hari ke 7 dapat kita lakukan peneropongan telur, apakah telur ada bibitnya atau tidak.
7 memasuki hari ke 18 sampai menetas ( hari ke 21) jangan lakukan pemutaran
ventilasi udara dibuka 100% 

Kira-kira begitu ringkasan manual book mesin tetas saya. TAPI lagi-lagi  penulis mempunyai pengalaman sendiri yaitu :
1. Khusus untuk pemutaran telur, penulis hanya melakukan 1 kali dalam sehari, itupun waktunya tidak tentu, terkadan pagi sebelum ngantor, atau sore hari. dan hasilnya Alhamdulillah seperti gambar di atas Telur ayam tetap menetas dengan sukses.
TIPS dari penulis :
2. Alas pada mesin tetas terbuat dari strimen yang datar, ini akan menyulitkan dalam menempatkan telur-telur tersebut. akibnat alas yang datar telur mudah menggelundung kesana kemari. ini dikawatirkan dapat merusak jaringan pada telur. NAH........... sebaiknya alas strimin tersebut di desain tidak rata, atau dibuat bergelombang 
cara membuat alas strimin bergelombang sangat sederhana : karena karakter srimin yang lembek, maka kita bisa melakukan dengan :
a. Taruh pipa bulat seukuran telur ayam pada bagian bawah strimin.
b. Pukul dengan pelan pada bagian kanan-kiri pipa tersebut.
c. Nah................ sekarang permukaan strimin sudah bergelombang dan dapat untuk menempatkan telur dengan aman tanpa menggelinding

3. Anak ayam dapat bertahan  1-3 hari tanpa makan dan minum
4. Jangan tergesa memindahkan anak ayam yang sudah menetas. jika dilakukan akan mengganggu  telur lainnya yang akan menetas. Karakter telur yang akan menetas dalam keadaan suhu stabil akan rapuh, sehingga memudahkan telur-telur lainnya untuk menetas. jika suhu tidak stabil(menurun) akibat kita memindah anak ayam yang baru menetas, maka cangkang telur lainya akan mengeras dan sulit untuk menetas. nah..... siapa yang nyesel.......? 
5. Pengambilan anak ayam sebaiknya menunggu semua telur menetas, kadang sampai jangka 2-3 hari telur akan menetas semua. jika didapati anak ayanm yang belum kering betul nanti berdampak pada tulang kakinya, tekadang bengkok/cacat.
6. Alas telur terbuat dari strimin. beberapa kasus akan mengganggu dalam pertumbuhan tulang kaki. Tulang kaki ayam hutan yang baru menetas belum kuat menumpu pada alas  strimin tersebut dan karakter strimin adalah licin. ini dapat menyebabkan  kaki ayam hutan cacat. TIPS dari penulis adalah berikan kain kasa tebal (Bukan kain perban) ini bapat diperoleh di apotik untuk alasnya. Pada prinsipnya pemberian kain ini supaya kaki ayam dapat mencengkeram pada alasnya.

Selamat mencoba semoga sukses......

    10/4/12

    Ayam Hutan Hijau


    Ayam hutan hijau sangat digemari karena keindahan bulunya dan ke khasan suara kokoknya, maka tak heran penghobis unggas ini semakin banyak dan berkembang. Selain itu ayam ini merupakan produsen pertama penghasil ayam bekisar. Ayam bekisar ini merupakan hasil persilangan dari ayam hutan hijau dan ayam kampung. darinya dihasilkan ayam bekisar yang memiliki banyak keelokan dan keunikan dari unggas ini. Penulis saat ini  akan berbagi seputar ayam hutan hijau berdasarkan pengalaman penulis.

    Bagi para pemula terkadang menemukan beberapa kendala dalam pemeliharaan ayam hutan ini. Terkadang ayam hutan yang baru kita beli jatuh sakit berujung kematian, Ayam yang kita  punya terkadang sangat liar sehingga bagian tubuh khusunya kepala mengalami luka dan kerusakan yang dapat pula berujung pada kematian. Belum lagi ayam ini terkadang mogok makan, dan akhirnya sakit dan masih banyak lagi kendala yang ada dalam memelihara ayam hutan.

    Penulis ingin berbagi pengalaman dengan para pembaca sekalian tentang perawatan dan seluk beluk ayam hutan hijau juga ada tips dan triks sendiri dalam merawat dan menangkarkan ayam hutan ini.
    Semoga bermanfaat

    Salam dari saya.

    9/11/12

    Pelestari Ayam Hutan Hijau


    Hakekatnya sangat sederhana " Ingin ayam hutan hijau TIDAK PUNAH" itu saja.
    Mengapa ? 

    Kita mulai dari  sini:



    Kegemaran saya pada ayam hutan ini sudah mendarah daging seperti saya ceritakan pada awal postingan saya. awalnya bertujuan untuk membuat bekisar. sekitar tahun 90-an ketika itu saya baru saja  kuliah dan beberapa bekisar sudah "berhasil" saya hasilkan. Barangkali pada waktu itu saya termasuk anak termuda yang berhasil mencetak bekisar. ada istilah pada waktu itu bahwa berternak bekisar sama halnya menambang emas. Pada waktu itu harga kutukan saya bandrol 25- 30 rb sedang harga emas pada waktu itu baru 24 rb. (tahun 90-an) hal itu pula saya dapat tambahan uang saku kuliah saya dan memenuhi kebutuhan kuliah saya.


    Lalu mengapa kata "BERHASIL" di atas saya pertebal dan berwarna merah ?

    Jawabanya sederhana saja, karena pada waktu itu ketika ayam bekisar saya hasilkan , tidak lama kemudian ( selang 1-4 bulan) indukan ayam hutan jantan MATI. begitu seterusnya.  Pada waktu itu BELUM kepikiran  bagai mana nantinya NASIB ayam hutn itu ?

    Banyak perbincangan dengan sesama penangkar bekisar ( meski pada waktu itu baru 1 - 2 orang saja) komentarnya sama : " Waduh.....pejantan ayam hutanku Mati" begitu pula komentar yang sama ketika berinteraksi dengan penggemar bekisar saat bertemu di pasar hewan. Oh iya, penulis sampai saat ini belum pernah ikut kontes bekisar, kalo menyaksikan sering....

    dan bagi para pembaca yang punya hobi bekisar , mohon maaf, tulisan ini mengisahkan 22 tahun yang lalu dimana sampai saat ini pun penulis penuh dengan keterbatasan. saya yakin anda para penangkar bekisar jauh lebih profesional dan berpengalaman sehingga masalah di atas tidak terjadi.
    lanjut...........
     Ada yang bilang : oh....... itu karena terlalu keseringan kawin,  oh itu ayam hutannya belum cukup umur, oh itu kesehatan kandangnya tidak baik, oh... itu harus begini, harus begitu, dan seterusnya, dan seterusnya.
     Semua saran di atas telah saya antisipasi dan saya coba terapkan, tetapi hasilnya nol. tetap saja pejantannya MATI. Saya ingat betul pada waktu itu pejantan setelah kawin umurnya paling lama 4 bulan saja. 
    begitu banyaknya ayam bekisar yang saya hasilkan tetapi berdampak pula begitu banyak pula ayam hutan yan mati, belum pula berapa banyak bakalan ayam hutan muda tangkapan dari hutan yang saya beli dari pasar dan akhirnya  juga ikutan mati.

    sekali lagi ini cerita di tahun 90-an , saya yakin saat ini sudah banyak kemajuan bahkan teknik IB pun konon katanya berkembang pesat.
    Seiring waktu saya mulai mengalami kesulitan dalam mendapatkan indukan jantan yang siap kawin.  saya rasa bagi pembaca yang berpengalaman tau maksud saya. bagai mana tidak kalo indukan yang siap kawin selalu mati. sedang kalo membuat indukan diperlukan waktu yang relatif lama karena harus pelihara dari kecil.
    Terpikir oleh saya " bagai mana kalo indukan ayam hutan itu saya buat sendiri dengan menangkarkan ayam hutan di kandang saya. Awalnya Banyak yang mentertawakan saya , Imposible ! tidak mungkin, Ora isoh! begitu kata orang-orang. 
    Ada mitos bahwa ayam hutan betina tidak mau bertelur jika ditangkarkan.  mitos kedua  jika bertelur akan dimakan induknya, tidak akan menetas, selanjutnya, jika menetas anakan ayam itu akan lari dan menghilang. 
    yah............. bagi saya ketika itu merupakan tantangan tersendiri.

    pendapat saya ' ayam ini akan mengalami kelangkaan karena perburuan dan (maaf) penangkaran dengan teknik yang tidak tepat. TAPI masalahnya selain (IB) apakah ada teknik yang baik, kalo ada menurut saya itu hanya teori saja.

    singkat kata usaha menangkarkan ayam hutan pun saya mulai, dan mitos itu terpecahkan. TIDAK TERBUKTI. lambat laun mulai ada hasilnya seperti tulisan saya di awal posting. dan sampai saat ini pun penulis masih mengalami kegagalan.(postingan di bawah ) namun demikian penulis optimis " BISA!"

    Yah, setidaknya saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk ikut melestarikan ayam hutan hijau, dan bukan tidak mungkin para pencetak bekisar akan datang ketempat saya, dengan catatan saya betul-betul telah mencetak banyak ayam hutan. Mohon doa nya.



    setelah 4 butir telur ayam hutan itu

    setelah mendapat 4 butir telur tanpa pejantan, penulis mulai meng karantina indukan tersebut dengan memindahkannya ke sangkar,  saya pisah dari kandang polier, saya mandikan dan saya jemur setiap pagi. dan tak lupa beri makanan kesukaannya. ini berlangsung kurang lebih 5 hari.
    karena terpisah dengan kandang dan pejanyatnnya, indukan betina itu justru semakin birahi, tiap kali berkotek dan sesekali berkokok.

    Penulis mempunyai pengalaman baru lagi nih..............

    Meski betina berada di sangkar yang ukuranya relatif kecil ( tidak di polier) ternyata setelah saya campur dengan sang jantan terjadi perkawinan............ wuih...... ternyata.......... ; )

    di kandang sesempit inipun sang betina takluk dengan sang jantan. Kesempatan ini tidak saya sia -siakan , langsung keduanya saya masukan ke polier lagi........ dan sampai saat ini penulis  memposting sudah 1 telur dihasilkan dari indukan tersebut.

    kali ini penulis tidak mau gagal lagi...............

    4 ekor anakan ayam hutan

    Minggu pagi, sekitar jam 6 pagi saya mendapat SMS dari teman saya (tempat berburu ayam hutan) bunyinya begini :
    " Maz ada 4 uthuk ayam hutan. mau gag ?"
    langsung saya respon " ya, ok, saya berangkat dari rumah jam 9 -an"

    acara nganter istri pun Batal, maka berangkatlah ke TKP dengan ditemani si Sulung. Lumayan setelah perjalanan 1,5 jam sampailah di TKP. wah hari ini spesial, kami dijamu makan siang dengan sayur khas pegunungan meski hanya sayur tempe ( kayaknya organik semua nih dan bebas kolesterol....) nikmat betul rasanya.....

    simgkat cerita ke 4 anakan ayam hutan yang sehat2 ada di tangan saya .

    satu pengalaman saya di sini :

    sampai dirumah ada 1 anakan yang rupanya matanya sakit / terpejam dan ber air, wah harus aku apakan dengan anak ayam ini ?
    dengan sangat iseng aku obati dengan obat penyegar mataku (xendo cetro) dan xixixixix............ sampai sekarang sudah pulih kembali alias sembuh..........

    Lumayan sebagai obat sedih beberapa waktu yang lalu...........


    9/10/12

    Telur Ayam hutan hijau

    Hebat betul indukan betina yang satu ini ,
    baru beberapa hari saya ambil telurnya sekarang mulai bertelur lagi, ini karena penulis sering mensuplay makanan kesukaanya : jangkrik, telur semut
    tapi sayangnya tlur tersebut belum sempat terbuahi induk jantan, karena keadaanya saat itu saya pisah dengan jantannya.

    dari sini saya mempunyai pengalaman unik. ketika ayam hutan jantan saya masukan ke kandang betina , sang betina mengembangkan sayapnya bak melindungi diri dan anak-anaknya, Apa mungkin karena siklusnya sedang beranak ya?
    singkat cerita sang jantan seolah2 kecewa dengan sikap betina, maka di "Hajar"lah betina itu, untung aku masih di dekat kandang itu, segera saya pisah dari jantannya.
    kesokan harinya bertelur lagi - sampai telur yang ke 4. tapi sayang ke 4 telur itu tidak ada pejantannya.

    di goreng aja nih........... :)

    Telur ayam hutan

    Ke 6 telur ayam hutan hasil tangkaran ku beberapa waktu lalu saya eramkan ke indukan ayam kampung, setelah usia eraman 17 hari ( 4-5 hari lagi menetas) ternyata telur ayam kampung eraman sudah mulai menetas dan indukan sudah meluai turun meninggalkan eramannya, dan tinggallah ke 6 butir telur ayam hutan sendirian tanpa ada eraman dari induk ayam kampungku itu,
    saat ini  mesin penetaskau rusak beberapa waktu yang lalu, mau aku kemanakan telur ayam hutan ini yang sebentar lagi lahir di dunia.......  singkat cerita telur2 itu aku bawa ke mertuaku. dan ternyata disana tidak ada ayam yang sedang mengeram, adanya seekor entok yang mengeram baru beberapa hari , tanpa pikir panjang aku susukan ke indukan entok tersebut,
    selang beberapa hari ( 2 September 2012 pukul 5 sore) aku di hub. mertuaku  bahwa anakan ayam hutanku mati telah netas tetapi mati semua, kondisinya gepeng dan di makan semut,

    untuk ke dua kalinya  :(  ...............

    anakan ayam hutan

    tiba di rumah sudah pukul 10  malam,  tak lama kemudian  istirahat/tidur ( belum sempat nengok ke 3 anakan ayam hutan ku) pagi hari aktifitas seperti biasa, sampai pulang lagi jam 4 sore dan...
    sedih rasanya ; 3 ekor anakan ayam hutanku yang baru berusia 3 minggu mati
    yah begitulah , mungkin belum rejeki.
    Bulan syawal banyak acara trah keluarga, ngaterin ponakan ke obyek wisata yang banyak menyita waktu,
    meski telah saya persiapkan secara khusus untuk ke tiga anakan yang baru saja netas, lampu penghangat, serta rangsumnya, tapi yah..begitulah kenyataannya.

    masih ada 6 eraman butir telur ayam hutan masih 5 hari lagi...........

    8/18/12

    KALI KE 3 AYAM HUTAN KU MENETAS LAGI


    Para pengunjung yang budiman, saya ucapkan terimakasih dan permohonan maaf yang sebesar-besarnya sekiranya dulu pernah kontak dengan saya dan belum sempat saya balas. Ini dikarenakan ketersediaan stok yang sangat terbatas. Dan kesibukan saya ;

    Setelah blog ini saya tulis , maka LUDES-lah semua ayam hutan saya terjual maka Rencana saya menangkar jadi SANGAT terhambat.

    Hal itulah saya mulai berpikir untuk tidak menjual ayam hutan koleksi saya. Dan Alhamdulillah  atas doa dari pembaca sekalian , kali kedua  penulis berhasil menangkarkan ayam hutan hijau.

    Anakan ayam hutan  telah menetas 3 ekor dan sampai sekarang ( 20 Agustus 2012) baru berumur 7 hari.
    Dan saat ini pula dari indukan lain  telah bertelur 6 butir, dan baru masa eraman di susuan ayam kampung. Diperkirakan akan netas pada tanggal 1 September 2012. Semoga menetas semua. Amin.

    Terimakasih untuk kujungannya. 
    Salam Cek Ki Krek dari saya.

    6/3/10

    Hobies ini menurun dari ayah(alm) saya yang gemar ayam hutan dan saya mulai tertarik dan menekuninya ketika saya kuliah disemester awal ( kira2 1993) sampai saat ini masih untuk koleksi pribadi saja. Dari tahun 93-an sampai sekarang tidak pernah tidak memelihara ayam hutan. Usaha penangkaranpun selalu saya coba.

    Yang paling berkesan adalah: Kira-kira 4 Tahun lalu (ditulis Mei 2010) saya berusaha menangkarkan ayam hutan. indukan jantan (1) dan betina (3) saya coba jodohkan. dan mulai bertelur (11) telur saya masukkan mesin penetas dan akan Menetas pada : Senin 29 Mei 2006.

    TAPI Tuhan menghendaki laen , Pada Hari Sabtu Pagi 27 Mei 2006 Bantul di Guncang Gempa. (((((*))))) 5,7 SR

    Singkat cerita
    Ditengah kepanikan, ada sesuatu yang aneh. Ayam hutan-ku berkokok saling bersahutan dan terdengar nyaring dan keras.
    TERNYATA mereka ada di atas genting yang roboh ... Rupanya ayam2ku lepas semua karena kandang yang rusak tertimpa reruntuhan.dan beberapa ada yang mati.

    AJAIB...Hari Senin 29 Mei 2006 ku tengok mesin tetasku dan telur2 itu Menetas SEMUA. ( padahal listrik padam 2hari dan saat itu terjadi guncangan hebat) . Anak2 itu Sempat saya pindah ke sangkar, TAPI keadaan serba memprihatinkan dan tidak memunginkinkan, maka kulepas anak2 ayam itu.  1-2 hari masih terlihat di halaman rumah saya, tapi lama2 ENTAH mereka kemana.

    Dan Sekarang saya akan berusaha mencoba lagi  Mulai dari NOL.
    Bismillah...